Webinar Bertajuk “Keadilan Tarif Dasar Listrik, Perlukah Dilakukan Penyesuaian?”

Bagikan

 

Jakarta,Poskota-Nasional.

Menurut Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM,Jisman P. Hutajulu mengatakan
Rencananya dalam waktu dekat ini pemerintah akan menaikkan tarif listrik untuk rumah tangga (RT) mampu dengan daya listrik cukup besar. Namun, kewenangan naikkan atau turunkan listrik ada di tangan Pemerintah cq. Ditjen Gatrik Kementerian ESDM ujar Jisman P.Hutajulu dalam acara Webinar Bertajuk ” Keadilan tarif dasar listrik ,Perlukah Dilakukan Penyesuaian ?”,Hadir pembicara Direktur pembinaan program ketenagalistrikan Kementrian ESDM Jisman P.Hutajulu , Pembicara kedua: Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril ,dan Pembicara Ketiga : Direktur Energy Watch Mamit Setiawan, Jakarta 30/6/22.

Menurut Jisman P.Hutajulu, mengatakan Pemberian subsidi dan kompensasi listrik diharapkan memberikan keadilan yang merata bagi seluruh masyarakat.

Lebih Lanjut Jisman P.Hutajulu, mengatakan Pemerintah lewat Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa kenaikan tarif listrik yang berlaku mulai 1 Juli 2022 besok hanya berlaku untuk pelanggan rumah tangga yang mampu serta golongan pemerintah.
Untuk pelanggan rumah tangga yang menerima subsidi serta pelanggan dengan daya listrik di bawah 3.500 VA tidak mengalami kenaikan tarif listrik. Demikian pula untuk pelanggan UMKM hingga industri.

Jisman P.Hutajulu , mengatakan Perlu diingatkan kembali bahwa pemberlakuan ini tak menyentuh saudara-saudara kita yang diberikan subsidi, terutama yang masuk golongan tak mampu. Ini hanya untuk R2, R3 dan pemerintah.

Menurut nya, Penyesuaian tarif listrik hanya berlaku untuk golongan Rumah Tangga R2 dengan daya 3.500-5.500 VA, Rumah Tangga R3 dengan daya di atas 6.600 VA, dan pelanggan golongan pemerintah yang ditanggung negara, bebernya.

Lebih lanjut Jisman, mengatakan Pihak Pemerintah selalu memonitor dan mengevaluasi biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik di PLN. Saking pentingnya, ada beberapa kementerian termasuk Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN dan kami sendiri (Kementerian ESDM) yang mengevalusi, mengendalikan BPP daripada PT PLN (Persero), tegasnya.

Menurut Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril ,mengatakkan perubahan tagihan listrik untuk pelanggan pasca bayar baru akan terlihat pada tagihan bulan Agustus nanti.

Sedangkan untuk sistem pra bayar sudah akan berlaku tarif baru mulai 1 Juli 2022 sesuai dengan penggunaan listrik masing-masing pelanggan.

Menurut Bob Saril mengatakan seiring akan diberlakukannya kenaikan tarif listrik untuk golongan mampu dan pemerintah ini, Bob mengungkapkan sangat minimnya permintaan turun daya dari golongan pelanggan yang tarif listriknya dinaikkan. “Jadi apakah banyak yang turun daya sekarang? Nggak juga. Dalam catatan kami sedikit sekali, (tapi) memang ada yang nanya-nanya bisa turun daya nggak.

Lebih lanjut Bob Saril mengatakan Listrik sejatinya sudah menjadi kebutuhan, apalagi untuk orang-orang mampu yang memiliki rumah mewah di mana sensitivitas terhadap harga listrik hampir tidak ada. Turun daya memang bisa, tetapi kalau turun daya jadi jeglek-jeglek kan kenyamanan mereka terhalang juga.

Menurut Bob, Pemerintah akan menaikkan tarif listrik untuk rumah tangga (RT) mampu dengan daya listrik cukup besar. Saat ini, kewenangan naikkan atau turunkan listrik ada di tangan Pemerintah cq. Ditjen Gatrik Kementerian ESDM.

Bob Saril, mengatakan Pelanggan Pemerintah P2 dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp1.114,74 per kWh menjadi Rp1.522,88 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp38,5 juta per bulan dengan daya 3.500 VA per 1 Juli 2022. Kalau di Asia untuk tarif listrik rumah tangga (RT), kita termasuk dua dari bawah.

Tapi, Menurut Bob Saril mengatakan Pemerintah tentu akan bersikap adil dan hati-hati. kenaikan tarif listrik ini meski kecil akan mendapatkan respon beragam dari masyarakat. Untuk yang di-adjustment itu, kita juga masih rendah. Tarif industri itu kita paling kompetitif.

Sementara kenaikan tarif listrik itu hanya akan dikenakan pada konsumen RT mewah. Dan ini menjadi kewenengan Pemerintah. Tarif listrik naik atau bahkan turun PLN siap mendukung, ujarnya.

Bob Syaril, mengatakan PLN sebagai pemegang izin Ketenagalistrikan siap mendukung kebijakan Pemerintah terkait tarif listrik ini. Mereka itu orang kaya dan tak semestinya mendapatkan subsidi layaknya masyarakat miskin dengan daya 450 VA, beber nya.

Bob Saril, mengatakan Adapun, pelanggan Rumah Tangga R2 dengan daya 3.500 VA hingga 5.500 VA dan R3 dengan daya 6.600 VA ke mulai 1 Juli 2022 tarifnya disesuaikan dari Rp1.444,70 per kWh menjadi Rp1.699,53 per kWh.

Dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp111 ribu per bulan, jelas Bob, untuk pelanggan R2 dan Rp346.000 per bulan untuk pelanggan R3.

Menurutnya, Pelanggan Pemerintah P1 dengan daya 6.600 VA hingga 200 kVA dan P3 tarifnya disesuaikan dari Rp1.444,70 per kWh menjadi Rp1.699,53 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp978 ribu per bulan untuk pelanggan P1 dan Rp271 ribu per bulan untuk pelanggan P3.

Pelanggan Pemerintah P2 dengan daya di atas 200 kVA tarifnya disesuaikan dari Rp1.114,74 per kWh menjadi Rp1.522,88 per kWh, dengan kenaikan rekening rata-rata sebesar Rp38,5 juta per bulan,tegas Bob Saril.

Menurut Direktur Energy Wacth Mamit Setiawan ,mengatakan Kebijakan ini sudah tepat dilakukan di tengah kondisi indikator kenaikan biaya produksi yang sudah memang masuk syarat untuk meng-ajustment tarif listrik.

Lebih lanjut Mamit Setiawan, mengatakan Selain itu juga sebagai salah satu upaya dari pemerintah dalam melakukan penghematan terhadap beban kompensasi yang harus dibayarkan kepada PLN. Jadi beban pemerintah bisa berkurang dan PLN sendiri bisa sedikit bernapas lega karena beban beban yang harus dibayar terlebih dahulu akhirnya bisa berkurang juga,ujarnya.

Jadi saya kira ini memang langkah yang cukup tepat meskipun memang masih ada pro kontra karena yang namanya kebijakan itu tidak ada yang sempurna, apapun Kebijakan itu pasti akan membuat ramai di publik ,tutur Mamit Setiawan.

Menurut Mamit ,Mudah-mudahan PLN dan juga pemerintah masih tetap bisa konsekuen dan yang pasti tidak boleh ditinggalkan adalah sosialisasi bahwa ini memang akan terus ada ajustmen tergantung kepada indikator-indikator terhadap biaya pokok produksi bahwa ketika memang naik maka akan naik dan ketika turun maka juga akan turun.

Saya kira masyarakat juga tidak perlu panik terutama kepada masyarakat penerima subsidi karena kebijakan ini tidak menyentuh mereka. Jadi saya harapkan semua bisa berjalan dengan baik dan lancar,bebernya.

Menurut Mamit, mudah-mudahan yang namanya tarif ajustmen ini bisa dijalankan terus menerus sampai nanti ke depan ketika indikator ekonomi sudah mulai tumbuh, maka sektor industri dan sektor-sektor yang lain atau golongan-golongan yang lain pun bisa membantu pemerintah untuk mengurangi beban kompensasi yang harus dibayar

Saya lihat Pemerintah masih hadir. Namun PLN tetap harus efisien dalam menjalankan usahanya. Perlu ada tata kelola organisasi PLN. Selain itu, pemerintah harus melindungi PLN Terkait DMO batu bara , ujarnya.

Mamit juga meminta kepada para pihak terutama PLN untuk hati-hati, jangan sampai kenaikan tarif listrik ini justru menambah beban perusahaan.

Selama ini, kalau ada kenaikan tarif (listrik) PLN selalu nonbok dulu, (Pemerintah) bayar kemudian. Ke depan, jangan sampai terjadi lagi. Apalagi PLN juga menghadapi masalah serius terkait harga energi primer baik BBM atau batubara, tambah Mamit Setiawan kepada Poskota-Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *